Romizone Blog’ s Fantasy

March 1, 2006

Dealova

Filed under: Hiburan

Dealova Sebuah Dilema Cinta


Tersebutlah, seorang gadis bernama Karra (Jessica Iskandar). Siswi SMU Persada ini memang jagonya dalam permainan bola basket. Di sekolah, Karra dikenal sebagai sosok yang cukup pintar, nakal, dan jago basket. Sementara itu, di rumah, ia dikenal sebagai sosok yang manja sekaligus "cuek.Di tengah teriknya sang surya sekalipun tak segan ia turun ke lapangan berlatih sendirian. Tak heran pula jika Karra didaulat menjadi ketua ekskul basket di sekolahnya.Dira yang jago basket pertama kali dikenal Karra di sekolah. Perkenalan mereka diawali dari sebuah lapangan basket. Sedangkan, Ibel yang jago gitar pertama kali dikenal Karra di rumah Karra 

Suatu hari, konsentrasi bermainnya buyar oleh kehadiran seorang siswa baru di sekolah. Rupanya cowok bernama Dira (Banjamin Joshua) itu memecundanginya dalam sebuah duel basket. Gondoklah hati Karra lantaran sang cowok menistanya terus-menerus. Begitulah prolog dari film Dealova yang menjadi gawean perdana dari Flix Pictures.

Dira yang sering ketus, galak, dan kurang ajar seolah selalu ingin menyakiti dirinya ternyata lebih menarik perhatiannya ketimbang Ibel yang penuh perhatian dan senantiasa berupaya menyenangkannya. Tak heran, bila akhirya Dira  dipilih Karra menjadi pacarnya. Untuk itu, Ibel pun harus berbesar hati terhadap pilihan Karra. Sayang, hubungan kasih Dira dan Karra tak melulu berjalan mulus. Pertengkaran kerapkali mewarnai hubungan mereka. Saat keduanya bertekad untuk lebih saling menyayangi dan tak lagi saling menyakiti, Karra harus menghadapi sebuah kenyataan pahit, Dira tergolek tanpa daya di sebuah rumah sakit. Akankah Dira sembuh dan selanjutnya kembali mengisi hari-hari Karra atau malah Ibel yang bakal mengisi hari-hari Karra selanjutnya?


Novel teenlit milik Dyan Nuranindya yang bertajuk sama menjadi sumber ceritanya. Dian yang lain, yakni Dian W Sasmita kebagian memegang posisi sutradara. Kisahnya standar saja, balada cinta tiga remaja alias cinta segi tiga. Konon, ada sekat tipis antara rasa benci dan rasa cinta. Perasaan sebal Karra terhadap Dira inilah yang lambat laun mencair dan memunculkan rasa yang lain. Tentang perasaannya, Karra selalu curhat kepada teman main kakaknya, Ibel (Evan Sanders). Ndilalah, di hati Ibelpun ada rasa terhadap Dira. Begitulah, Ibel memendam perasaan kepada Karra, sementara Karra naksir kepada Dira. Dilematis. Ceria dan ringan menjadi kesan pertama film ini.

Warna-warna cerah mendominasi sepanjang durasi mulai dari di sekolah, di rumah, hingga di atas kapal pesiar. Warna-warna ini memang pas dengan kehidupan remaja. Celetukan-celetukan ringan bernada humor dari Edi Brokoli dan Reza Boekan juga menjadi bagian yang menambah aura segar itu. Namun, tak perlu menggunakan logika orang dewasa saat menikmati film ini. Posisikan diri anda sebagai ABG yang hobi kelayapan di mal dan jangan kritis-kritis amat kepada unsur cerita. Maklumlah pemilik idenya adalah bocah usia belasan ketika menulisnya. Kendati naskah filmnya digarap oleh Hilman “Lupus” Hariwijaya -yang sudah lebih dari dua dekade bergelut sebagai spesialis pencerita dunia remaja- film ini tetap terjebak pakem-pakem yang khas pada film Indonesia.

Sebut saja tatkala salah satu tokohnya terbatuk-batuk pastinya itu merupakan tanda-tanda datangnya penyakit yang berat macam tumor, kanker, atau apalah. Penonton film Indonesia sejati hafal betul dengan hal macam begini. Semangat berpanjang-panjang kisah juga menjadi penanda lain gejala di atas. Tengok saja adegan di kapal pesiar. Entah apa yang sedang terpikirkan dalam benak Ibel sehingga harus disorot berlama-lama saat bengong di atas geladak kapal. Pastinya ia berpikir tentang kekandasan cintanya dan bukan karena bisnis yang amsyong. Wah, hari gini masih terperangkap oleh cinta.

Ah, ada baiknya berpikir positif saja. Bisa jadi adegan ini sekadar visualisasi semata dari rangkaian musik yang dibawakan oleh Addie MS plus Victoria Philharmonic Orchestra. Indahnya sentuhan musik Addie ditambah vokal Once bolehlah disejajarkan dengan keasrian interior kapal yang mirip hotel bintang lima itu. Tentu saja tak hanya komposisi milik konduktor itu saja yang tersaji. Tembang-tembang dari Bunga Citra Lestari, Agus Sasongko, Cupumanik hingga Tere juga menjadi sisipan yang elok dinikmati telinga

Aku ingin menjadi mimpi dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati tlah letih

Aku ingin sesuatu yang selalu bisa kau sadari
Aku ingin kau tau bahwa aku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merangkai hati
Tanpamu bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu..u.uu
seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi……

Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada……






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer