Romizone Blog’ s Fantasy

March 29, 2006

Alasan Pria tergila gila Pertandingan Olahraga

Filed under: Bebas


Janji kencan yang sudah direncanakan seminggu lalu, tiba-tiba harus dibatalkan karena si dia memilih nonton siaran langsung F-1 di salah satu saluran TV swasta. Sebal? Itu pasti!

Bagaimana tidak sebal kalau setiap akhir pekan dia hanya nongkrong di depan televisi untuk menonton pertandingan F-1 atau pertandingan sepak bola?

Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, kapan Anda bisa pacaran seperti orang "normal"? Entah itu nonton ke bioskop, makan di restoran atau sekedar jalan-jalan ke mal.

Tapi memang begitulah adanya kaum lelaki. Nah, supaya tak terus-menerus sakit dan makan hati. Lebih baik pahami benar, alasan mayoritas kaum adam ini tergila-gila pada acara pertandingan olahraga.

Menurut Phillip Hodson seorang pakar relationship, para pria memang sudah dari "sono"nya punya ambisi untuk meraih kemenangan. Sejak kecil, mereka sudah diajarkan untuk berkompetisi, misalnya dalam pelajaran, lomba lari, balap sepeda, adu layangan, dan sebagainya.

Saat menginjak dewasa, dorongan berkompetisi ini tidak banyak berubah. Saat pria menonton pertandingan sepak bola di layar televisi, ia merasa seolah menjadi salah satu anggota kesebelasan yang sedang bertanding. Tak heran jika ia berjingkrak-jingkrak, berteriak-teriak seperti orang gila bila tim pujaan mereka menang atau jagoannya berhasil mencetak gol.

Phillip Hodson menjelaskan, ada 5 hal positif saat pria tergila-gila pada olahraga. Ingin tahu apa saja?

1. Olahraga = menaklukkan masalah
Para pria memiliki hasrat yang besar untuk memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi baik oleh pasangan maupun dirinya sendiri. Memecahkan masalah membutuhkan strategi, sama halnya seperti olahraga.

2. Olahraga membutuhkan keberanian
Kegiatan-kegiatan yang membutuhkan keberanian dan menyerempet bahaya bisa menimbulkan sensasi yang membuat para pria terinspirasi.

3. Dengan menyaksikan acara-acara tersebut, kepercayaan diri bahwa mereka pun mampu "mengalahkan" persoalan-persoalan (di kantor, dalam pergaulan atau hubungan dengan pasangan) akan meningkat. Mereka yakin bisa memecahkan persoalan hidup seperti para pemenang di dunia olahraga.

4. Impian menjadi pemimpin
Dalam hati setiap pria pasti tersimpan keinginan untuk menjadi seorang pelatih yang mampu mengatur dan memimpin tim/atlet meraih gelar juara. Bagi para pria, seorang pelatih adalah motivator yang hebat, pembicara yang berpengaruh, kebapakan, agak diktator, dan sangat maskulin.

5. Olahraga = melatih diri menjadi cekatan dan cermat
Alasan lain, pria adalah "makhluk bertindak". Olahraga merupakan kegiatan yang cepat dan cekatan. Pada setiap pertandingan olahraga, maka setiap pemain memiliki peran yang spesifik dan meraih kemenangan merupakan prioritas utama. Contohnya, setiap penggemar bola tahu, persiapan dan kompleksitas dari setiap pertandingan (ibarat penguasaan wanita pada gerai-gerai pakaian di pusat perbelanjaan). Nah, setiap ketegangan penalti, perebutan bola, bunyi peluit wasit yang marah dan siap merogoh kartu kuning atau merah dalam setiap momen itu, membuat si dia tidak akan bisa dan tak mau mengalihkan pandangan mereka dari televisi. Tidak pula meski Anda tampil seseksi mungkin dan memanggil namanya dengan rayuan maut!

6. Olahraga bisa memperat hubungan pertemanan sesama pria
Alasan terakhir, olahraga bisa menciptakan sebuah percakapan yang seru jika para pria ini berkumpul. Penggemar tim yang sama akan berbagi cerita, sejarah,ngobrol, serta menganalisa pertandingan selama berjam-jam. Menonton pertandingan olahraga bersama memberi kesempatan pada pacar Anda dan teman-temannya untuk bergembira, memaki atlet profesional yang bisa lari lebih cepat, lebih berotot, lebih kaya, dan lebih beruntung daripada para penontonnya.

Masih belum bisa memahami si dia? Coba bayangkan saja bahwa tontonan-tontonan olahraga tersebut sama seperti Anda ketika menikmati novel percintaan atau menonton film yang dibintangi oleh Brad Pitt atau Keanu Reeves. Cukup adil bukan?

March 1, 2006

Dealova

Filed under: Hiburan

Dealova Sebuah Dilema Cinta


Tersebutlah, seorang gadis bernama Karra (Jessica Iskandar). Siswi SMU Persada ini memang jagonya dalam permainan bola basket. Di sekolah, Karra dikenal sebagai sosok yang cukup pintar, nakal, dan jago basket. Sementara itu, di rumah, ia dikenal sebagai sosok yang manja sekaligus "cuek.Di tengah teriknya sang surya sekalipun tak segan ia turun ke lapangan berlatih sendirian. Tak heran pula jika Karra didaulat menjadi ketua ekskul basket di sekolahnya.Dira yang jago basket pertama kali dikenal Karra di sekolah. Perkenalan mereka diawali dari sebuah lapangan basket. Sedangkan, Ibel yang jago gitar pertama kali dikenal Karra di rumah Karra 

Suatu hari, konsentrasi bermainnya buyar oleh kehadiran seorang siswa baru di sekolah. Rupanya cowok bernama Dira (Banjamin Joshua) itu memecundanginya dalam sebuah duel basket. Gondoklah hati Karra lantaran sang cowok menistanya terus-menerus. Begitulah prolog dari film Dealova yang menjadi gawean perdana dari Flix Pictures.

Dira yang sering ketus, galak, dan kurang ajar seolah selalu ingin menyakiti dirinya ternyata lebih menarik perhatiannya ketimbang Ibel yang penuh perhatian dan senantiasa berupaya menyenangkannya. Tak heran, bila akhirya Dira  dipilih Karra menjadi pacarnya. Untuk itu, Ibel pun harus berbesar hati terhadap pilihan Karra. Sayang, hubungan kasih Dira dan Karra tak melulu berjalan mulus. Pertengkaran kerapkali mewarnai hubungan mereka. Saat keduanya bertekad untuk lebih saling menyayangi dan tak lagi saling menyakiti, Karra harus menghadapi sebuah kenyataan pahit, Dira tergolek tanpa daya di sebuah rumah sakit. Akankah Dira sembuh dan selanjutnya kembali mengisi hari-hari Karra atau malah Ibel yang bakal mengisi hari-hari Karra selanjutnya?


Novel teenlit milik Dyan Nuranindya yang bertajuk sama menjadi sumber ceritanya. Dian yang lain, yakni Dian W Sasmita kebagian memegang posisi sutradara. Kisahnya standar saja, balada cinta tiga remaja alias cinta segi tiga. Konon, ada sekat tipis antara rasa benci dan rasa cinta. Perasaan sebal Karra terhadap Dira inilah yang lambat laun mencair dan memunculkan rasa yang lain. Tentang perasaannya, Karra selalu curhat kepada teman main kakaknya, Ibel (Evan Sanders). Ndilalah, di hati Ibelpun ada rasa terhadap Dira. Begitulah, Ibel memendam perasaan kepada Karra, sementara Karra naksir kepada Dira. Dilematis. Ceria dan ringan menjadi kesan pertama film ini.

Warna-warna cerah mendominasi sepanjang durasi mulai dari di sekolah, di rumah, hingga di atas kapal pesiar. Warna-warna ini memang pas dengan kehidupan remaja. Celetukan-celetukan ringan bernada humor dari Edi Brokoli dan Reza Boekan juga menjadi bagian yang menambah aura segar itu. Namun, tak perlu menggunakan logika orang dewasa saat menikmati film ini. Posisikan diri anda sebagai ABG yang hobi kelayapan di mal dan jangan kritis-kritis amat kepada unsur cerita. Maklumlah pemilik idenya adalah bocah usia belasan ketika menulisnya. Kendati naskah filmnya digarap oleh Hilman “Lupus” Hariwijaya -yang sudah lebih dari dua dekade bergelut sebagai spesialis pencerita dunia remaja- film ini tetap terjebak pakem-pakem yang khas pada film Indonesia.

Sebut saja tatkala salah satu tokohnya terbatuk-batuk pastinya itu merupakan tanda-tanda datangnya penyakit yang berat macam tumor, kanker, atau apalah. Penonton film Indonesia sejati hafal betul dengan hal macam begini. Semangat berpanjang-panjang kisah juga menjadi penanda lain gejala di atas. Tengok saja adegan di kapal pesiar. Entah apa yang sedang terpikirkan dalam benak Ibel sehingga harus disorot berlama-lama saat bengong di atas geladak kapal. Pastinya ia berpikir tentang kekandasan cintanya dan bukan karena bisnis yang amsyong. Wah, hari gini masih terperangkap oleh cinta.

Ah, ada baiknya berpikir positif saja. Bisa jadi adegan ini sekadar visualisasi semata dari rangkaian musik yang dibawakan oleh Addie MS plus Victoria Philharmonic Orchestra. Indahnya sentuhan musik Addie ditambah vokal Once bolehlah disejajarkan dengan keasrian interior kapal yang mirip hotel bintang lima itu. Tentu saja tak hanya komposisi milik konduktor itu saja yang tersaji. Tembang-tembang dari Bunga Citra Lestari, Agus Sasongko, Cupumanik hingga Tere juga menjadi sisipan yang elok dinikmati telinga

Aku ingin menjadi mimpi dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati tlah letih

Aku ingin sesuatu yang selalu bisa kau sadari
Aku ingin kau tau bahwa aku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merangkai hati
Tanpamu bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu..u.uu
seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi……

Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada……






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer