Kesenjangan Antara ATM dan Ekonomi Rakyat
“Nggak ada uang kecil nih mas?”. Pertanyaan yang sudah dapat ditebak saat aku sodorkan duit 50 ribuan untuk beli 2 kotak susu ultra coklat kemasan kecil. “Wah, nggak ada” jawabku sambil membuka dompet yang isinya cuma uang seribuan. Lha memang nggak ada beneran, emang mau dibayar pake apa lagi?. “Bayarnya nanti sore aja mas,” kata penjaga warung.
Untung pemilik warung baik dan sudah kenal denganku. Kalau lagi di warung yang belum dikenal -sekedar beli teh botol, kupat sayur, vitamin C, mie rebus, atau koran pagi-, saat uang dibayarkan pemiliknya malah keliling ke tetangga-tetangga untuk memecah uang satuan terkecil ATM tersebut.
Lebih parah lagi kalau pas dari ATM pagi-pagi langsung naik angkot tanpa bawa uang kecil. Wah, bisa didamprat sama sopirnya. “Bah, macam mana pula pagi-pagi bikin ribut kau?”
De javu?
Kondisi ekonomi memang begitu, di satu sisi duit sudah disimpen di bank, dimana pengambilan uang dilakukan lewat ATM dengan pecahan minimun 50 ribu. Di sisi lain ekonomi rakyat masih berlangsung pada kisaran satuan ribuan.
BNI sendiri sekarang malah membuat aturan baru, dimana pengambilan dibawah 5 juta di counter terkena biaya Rp 3000, sedang pengambilan di atas 5 juta harus menggunakan nomer PIN yang -menurut pengumuman di bank- harus buat dulu di CSO (BNI memang sungguh percaya diri, menganggap semua orang tahu singkatan CSO).
Padahal dulu waktu masih di kampus, aku sering ngambil uang di counter langsung. Selain karena bisa dapet duit pecahan, 5 ribuan misalnya, saldo memang sudah tidak cukup lagi untuk diambil dari ATM. Hehe, biasa deh mahasiswa rantau kalau lagi sepi proyek.
Pengelola ATM tampaknya tidak sadar betul akan kondisi ini. Bahkan sedikit demi sedikit menghapus ATM dengan pecahan 20.000 dengan pecahan 50.ooo, bahkan di kampus sekalipun.
Mungkin juga pengelola ATM berkomplot dengan pemilik-pemilik minimarket, yang terus menggencet warung kecil, agar setelah ambil duit dari ATM langsung belanja di mini market karena dipastikan punya kembalian. -hihi, teori konspirasi-
Padahal, lihat sendiri kan, di Indonesia ini banyak orang yang jarang sekali memegang duit 50 ribuan. Contohnya adalah orang-orang yang berdesak-desakan beberapa waktu lalu untuk sekedar mendapat subsidi 100 ribu/bulan. Entah mereka memang miskin atau berpura-pura miskin.
Kesenjangan yang terus dipersempit
Tampaknya pemerintah sadar betul akan kesenjangan ini. -Mungkin- salah satu caranya adalah membuat uang 50-ribuan tidak terkesan bernilai lagi, dengan membuat uang 50ribuan baru yang kesannya kok kayak duit mainan. Menaikkan harga BBM juga cara yang cukup bagus untuk menaikkan harga barang-barang, jadi pemilik warung kecil tidak perlu repot mencari kembalian.
Kalau nggak salah, DPR pusat naik gaji -eh, tunjangan nding- mulai bulan ini yah? Sekedar mengingatkan, kalau bapak-bapak mau ngambil 10 juta di BNI harus bikin nomer PIN dulu yah di CSO. Tahu kan CSO?
Pesan moralnya sih, emang lebih enak berpura-pura jadi wakil rakyat, daripada berpura-pura jadi rakyat miskin.
Quote from Herics

Great posting brother!
Comment by nanda — February 28, 2006 @ 10:52 am
Halah, sing iki yo ngopi pisan.
tobat pakde romi!
Comment by hericz — April 4, 2006 @ 2:50 pm